بسم الله الرحمن الرحيم
Bacaan yang pas banget nih buat kita semua~
JANGAN BAPER😆
.
Ukhti,
Bila ada ikhwan yang bersikap baik padamu, terjemahkan itu sebagai hal yang ilmiah. Sebab sudah naluri laki-laki bersikap baik pada perempuan.
.
Bila bukumu jatuh dan dia ambilkan, itu normal. Tidak ada yang spesial. (Jangan baper)
.
Bila kamu bertemu di jalan dan dia mengucapkan salam, bukan berarti dia tertarik, dia sedang menjalankan sunnah. Bila di antara teman-temanmu hanya kamu yang disapa, jangan baper, bisa saja kebetulan dia hanya ingat namamu. Kebetulan. (Jangan baper)
.
Bila suatu saat dia membalas chatmu memakai emot, bukan berarti dia ada rasa, bisa saja sebagai pencair suasana pertemanan. Cukup itu saja. (Jangan baper)
.
Pada dasarnya rasa kecewa itu karena diciptakan sendiri, dimunculkan sendiri karena keliru dalam menanggapi sikap lawan jenis. Sudah sifat asli perempuan mudah terbawa perasaan, oleh karena itu:
Akhi,
Bila ada perempuan yang sedang bersedih, jangan kamu datang sendiri menghibur, biarkan teman perempuannya yang mendatangi. (Jangan biarkan dia baper)
.
Tak perlu menawarkan bantuan bila kau lihat dia bisa melakukan sendiri atau sahabatnya bisa membantu (Jangan biarkan dia baper)
.
Jangan mencandainya perihal hati, bercanda tentang perasaan pada lawan jenis bukanlah hal yang lucu (Jangan biarkan dia baper)
.
Jaga selalu kehormatan dengan tidak menebar pesona. Jaga kehormatan perempuan dengan tidak bersikap terlalu manis pada mereka. Bersikaplah sewajarnya. Banyak hal yang tidak disengaja bisa menimbulkan baper. Tinggal bagaimana kita pandai-pandai mengelola perasaan kita.
.
.
.
Source : @muda_berdakwah
#MudaBerdakwah
Hayo, loh.. masih mau baper? :D
[AKU, KAMU, TAHU] sebuah prosa
Bismillaah..
[AKU, KAMU, TAHU]
Inilah fenomena
antara kamu-dan-aku.
Kala bertemu,
Terpasang wajah kaku.
Dimana keramahanmu?
Inilah fenomena.
Dimana menyapa saat ada perlunya saja.
Dan berbincang pun sekadarnya.
Inilah fenomena.
Saat kita dinilai orang dengan sebutan "sombong, tidak simpatik."
Kita berdalih,
"Masa, aku yang nyapa duluan?"
Tapi, ketika sudah ada yang bertanya,
Kita malah menjawab setengah-setengah.
Yang membuat orang berpikir, "niat jawab gak, sih?"
Hmm..
***
Ini hanya sebuah prosa.
Berlatarbelakang fenomena,
Yang dianggap biasa.
Namun sesungguhnya, tak selayaknya!
Bukankah kita sesama muslim?
Bukankah kita saudara seiman?
Bukankah kita bersatu dalam aqidah, dalam kecintaan kepada-Nya?
Bukankah kita menjadikan Rasul sebagai panutan?
Maka, mulailah.
Ubah wajah yang sering kita tekuk,
menjadi pancaran sejuk.
Mari sama-sama belajar,
Untuk tak jadi manekin bisu,
kala berpapasan dengan orang yang kita tahu.
Dan, hey.
Kita bukan mesin-penjawab-otomatis.
Bersikaplah simpatik.
Saat ada yang bertanya, jangan dijawab sepatah kata saja.
Dan dijawabnya, jangan jutek, ya!
Kita lagi ngobrol sama manusia, tahu.
Bukan tembok :) !
***
Kata Rasul,
ﻻَ ﺗَﺤْﻘِﺮَﻥَّ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤَﻌْﺮُﻭﻑِ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﻭَﻟَﻮْ ﺃَﻥْ ﺗَﻠْﻘَﻰ ﺃَﺧَﺎﻙَ ﺑِﻮَﺟْﻪٍ ﻃَﻠْﻖٍ
“Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun juga walau engkau bertemu saudaramu dengan wajah berseri” (HR. Muslim no. 2626).
***
Sabda Rasul pula,
“Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun walau hanya berbicara kepada saudaramu dengan wajah yang tersenyum kepadanya. Amalan tersebut adalah bagian dari kebajikan.” (HR. Abu Daud no. 4084 dan Tirmidzi no. 2722. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Al Hafizh Ibnu Hajar menyatakan bahwa hadits ini shahih)
***
N.b. tulisan ini tidak berlaku untuk dipraktekkan pada lawan jenis.
N.n.b. Kalau dengan lawan jenis, itu namanya MODUS!
(Fpn/RTs1437)
[AKU, KAMU, TAHU]
Inilah fenomena
antara kamu-dan-aku.
Kala bertemu,
Terpasang wajah kaku.
Dimana keramahanmu?
Inilah fenomena.
Dimana menyapa saat ada perlunya saja.
Dan berbincang pun sekadarnya.
Inilah fenomena.
Saat kita dinilai orang dengan sebutan "sombong, tidak simpatik."
Kita berdalih,
"Masa, aku yang nyapa duluan?"
Tapi, ketika sudah ada yang bertanya,
Kita malah menjawab setengah-setengah.
Yang membuat orang berpikir, "niat jawab gak, sih?"
Hmm..
***
Ini hanya sebuah prosa.
Berlatarbelakang fenomena,
Yang dianggap biasa.
Namun sesungguhnya, tak selayaknya!
Bukankah kita sesama muslim?
Bukankah kita saudara seiman?
Bukankah kita bersatu dalam aqidah, dalam kecintaan kepada-Nya?
Bukankah kita menjadikan Rasul sebagai panutan?
Maka, mulailah.
Ubah wajah yang sering kita tekuk,
menjadi pancaran sejuk.
Mari sama-sama belajar,
Untuk tak jadi manekin bisu,
kala berpapasan dengan orang yang kita tahu.
Dan, hey.
Kita bukan mesin-penjawab-otomatis.
Bersikaplah simpatik.
Saat ada yang bertanya, jangan dijawab sepatah kata saja.
Dan dijawabnya, jangan jutek, ya!
Kita lagi ngobrol sama manusia, tahu.
Bukan tembok :) !
***
Kata Rasul,
ﻻَ ﺗَﺤْﻘِﺮَﻥَّ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤَﻌْﺮُﻭﻑِ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﻭَﻟَﻮْ ﺃَﻥْ ﺗَﻠْﻘَﻰ ﺃَﺧَﺎﻙَ ﺑِﻮَﺟْﻪٍ ﻃَﻠْﻖٍ
“Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun juga walau engkau bertemu saudaramu dengan wajah berseri” (HR. Muslim no. 2626).
***
Sabda Rasul pula,
“Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun walau hanya berbicara kepada saudaramu dengan wajah yang tersenyum kepadanya. Amalan tersebut adalah bagian dari kebajikan.” (HR. Abu Daud no. 4084 dan Tirmidzi no. 2722. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Al Hafizh Ibnu Hajar menyatakan bahwa hadits ini shahih)
***
N.b. tulisan ini tidak berlaku untuk dipraktekkan pada lawan jenis.
N.n.b. Kalau dengan lawan jenis, itu namanya MODUS!
(Fpn/RTs1437)
Langganan:
Postingan (Atom)
