Páginas

Katanya, sih, Tobat...

Tobat sambel

Gimana sih rasanya makan sambel?
Pedes.

Ya, tentu saja.

Maksudku, bukan hanya tentang rasa yg dikecap. Tapi sebuah sensasi ketika kepedasan itu kita rasakan.

"Udah tau bikin sakit, tapi masih diterusin aja!"

Kalau dariku, itu yg aku rasakan. Mari kita akui. Ada sisi 'menyiksa diri' ketika kita mengonsumsi makanan pedas. Tapi anehnya, perasaan itu malah bikin kita terus makan lagi dan lagi!

Meski saat rasa lidah sudah tak sanggup, berucaplah kita,

"Ah, udah, udah. Gak kuat aku mah!"

Tapi tak jarang, beberapa menit usai sensasi terbakar itu mereda, kita malah terbuai dibuatnya.

Disantap kembali lah sambel itu!

Padahal, tadi, katanya udah gak kuat. :p

Dari sini, sudah bisakah menghubungkan fenomena ini untuk mendefinisikan 'tobat sambel'?

Bukan, ia bukan bermakna tobat dari memakan sambal, yg berarti ia akan berhenti mengonsumsi cabai dan kawan-kawannya.

Melainkan, tobat yg serupa saat kita berjanji bakal berhenti makan sambal karena kepedasan, eh taunya tak lama setelahnya makan lagi juga!

Yup, janji itu dilanggar karena tergoda sensasi enaknya makan sambal.

Hmm...
Kira-kira, dosa apa yg selalu membuai kita untuk mengulangnya kendati sudah tau bahayanya?

Yuk, ah, taubat mah taubat aja.
Say no to tobat sambel!

KETIKA JARI JEMARI MENYERANG HATI

KETIKA JARI JEMARI MENYERANG HATI

“10 Fakta tentang Tempat Wisata A, No. 8 bikin kaget!”, “Ingat dengan penyanyi cilik bintang iklan susu kaleng tahun 2000-an? Ini, lho, kabarnya sekarang!” beserta serangkaian judul persuasif lainnya yang seolah menggiring kita untuk membuka isi berita merupakan kata-kata yang sudah tak asing lagi kita baca dan berseliweran di linimasa.
Kemudian link berita itu ramai dibuka. Kata demi katanya dikonsumsi oleh pembaca. Namun ternyata, semakin banyak pembaca, semakin beragam pula reaksinya. Ada yang biasa saja, tak menanggapi apa-apa, ada juga yang dengan sigap menakan tanda “bagikan” supaya teman-temannya ikut membaca, dan ada yang malah kecewa bahkan sampai marah-marah.
Dikutip dari materi yang disampaikan oleh Pak Gungun Suswadi, staff ahli di Kementerian Komunikasi dan Informasi, dalam acara bertaju ‘Bijak Bermedia Sosial’ yang digelar di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran pada hari Selasa (12/12), di zaman ini, Indonesia memang sudah memasuki era informasi. Sehingga tak heran bila kita sudah ketergantungan dengan informasi yang dengan mudah kita akses melalui gawai pintar yang kita miliki.
Bahkan, masih menurut Pak Gungun, informasi kini menjadi komoditas yang harus dibeli, yang di antara caranya melalui pulsa yang diisi pada ponsel. Beliau menyampaikan data statistik mengenai rata-rata pengeluaran pulsa di wilayah Indonesia dalam sebulan. Seperti wilayah Aceh Barat sebesar Rp34.000,00, Merauke sebesar Rp28.000,00, dan yang paling rendah di Pulau Buru,Maluku sebesar Rp7.000,00. 
 Dengan adanya pulsa itulah, informasi dapat kita beli kemudian diakses seluas mungkin melalui ponsel pribadi yang menurut data statistik, pengguna ponsel pintar di Indonesia mencapai angka 63,4 juta dengan pembelian sim card sekitar 330 juta. Informasi yang dicari tentu bermacam bentuknya. Salah satunya adalah berita-berita sebagaimana yang telah disinggung di awal tulisan. Dari sebuah berita dapat mendatangkan banyak timbal balik, baik pujian maupun hujatan.
Semua itu tergantung isi beritanya, memang. Manakala membaca judul yang nampak heboh dan hiperbolis, otomatis muncul berbagai ekspektasi di pikiran pembaca perihal konten berita yang disajukan padanya. Terlebih dengan terbuka bebasnya kolom komentar, setiap konsumen berita bisa sesuka hati menyampaikan opini. Di sinilah, bisa dikatakan, masalah baru bermunculan. Tak bisa kita pungkiri bahwa tak semua berita isinya semenawan yang ada pada judulnya.
Kerap kita temui berita yang isinya tak sesuai judul, melenceng sangat.  Atau pembahasannya mungkin cukup sesuai, namun tak memenuhi ekspektasi pembaca yang didapat dari judul yang ada. Bahkan, tak jarang ada berita yang ujung-ujungnya malah menjual produk, padahal tujuan orang yang membacanya sedang membutuhkan informasi, bukan mencari iklan ataupun promosi.
Kemudian para pembaca berkomentar. Fenomena di kolom komentar yang kita temui hari ini ialah budaya nyinyir. Kadang nyinyir itu beralasan, memang, seperti kesal dengan isi berita yang tak ada nyambung-nyambungnya dengan judul. Tetapi tak jarang komentar nyinyir itu justru menghinggapi berita atau postingan yang sebenarnya bermanfaat. Bahkan serang-menyerang antar komentator seringkali tak dapat terelekkan. Hanya karena berselisih pendapat dalam masalah sepele, caci-mencaci pun terjadi. Bukan hanya mengkritisi opini, tapi juga hingga menjelek-jelekkan pribadi. Padahal, sebelum berkomentar di media sosial ini, kedua pihak tidak mengenal sama sekali!
Media sosial memang menjadi ajang kita bebas berekspresi. Namun kita tetap harus berhati-hati, karena di Indonesia ini, terdapat Undang-Undang ITE yang mengatur dan mengawasi agar hal-hal buruk di dunia maya tidak terjadi. Sanksinya pun tak main-main. Hukuman denda dan kurungan selalu menghantui.
Mari lebih berhati-hati menggerakkan jari-jemari dalam mengomentari isu ataupun berita di media sosial yang kita temui. Mari kurangi menanggapi tulisan orang lain dengan penuh tendensi. Sebab meski tak saling bertatap muka dan sang penulis tak kita kenali, ketika kita berinteraksi, tetap saja kita memiliki hati. Yang harus sama-sama kita jaga agar tak saling menyakiti.
Mari menjadi bijak dalam menggunakan media sosial ini. Apik dalam menulis, selektif dalam berbagi, serta santun dalam mengomentari. Karena apa yang datang dari hati, akan sampai pula ke hati.

#BijakBermedsos
#Flashblogging

Aku dan Apa yang Kurindu

#Esai Beasiswa Bazma Pertamina


Aku dan Apa yang Kurindu

oleh: Fira Pujia Nuraini


"Bila kau ingin melakukan perubahan, mulailah dari diri sendiri, dari lingkungan terdekat, dan dari sekarang!"
Itulah di antara ucapan yang terngiang-ngiang di benakku. Aku, si Perindu Perubahan. Bukan perubahan besar-besaran yang kuinginkan semacam revolusi, rombak total parlemen, atau yang sebangsanya. Aku memimpikan perubahan dari hal kecil seperti masyarakat yang terbiasa berlaku jujur, disiplin membuang sampah pada tempatnya, dan memperbaiki akhlak pada sesama. Ah, nampaknya itu bukan "hal kecil". Hal yang kusebutkan tadi akan menghasilkan dampak yang besar bila satu orang memulainya, kemudian bertambah satu, bertambah lagi, hingga banyak yang terinspirasi dan mengikutinya, dan akhirnya terbentuklah perubahan massal guna kebaikan bersama.
Suatu hari pikiranku berkecamuk. Apa yang kupikirkan dilatarbelakangi oleh kemirisan melihat kondisi para penerus bangsa yang sebagiannya semakin bobrok baik dari sisi pendidikan maupun moralnya. Nuraniku kian tergerak untuk melakukan perubahan. Tetapi perubahan apa yang bisa mendatangkan hasil yang signifikan?
Jawaban atas pertanyaan itu muncul kembali kala seorang temanku bertanya,
"Fir, kalau kamu jadi pejabat, mau jadi apa?"
Dengan sigap aku menjawab,
"Menteri pendidikan!"’
Temanku itu kemudian mengangguk-angguk menunjukkan apresiasi. Untuk kemudian ia bertanya lagi,
“Gak mau jadi presiden?”
Aku diam sejenak, kemudian tertawa kecil,
“Hehe...”

***

Aku adalah anak bungsu yang memiliki seorang kakak. Kendati bukan keluarga yang berlimpah harta, bisa dikatakan aku dibesarkan dengan didikan moral yang baik, meskipun perlu diakui bahwa ibukulah yang banyak berperan dan peran ayah kurang terasa.  Aku selalu berusaha menjadi yang terbaik bagi mereka, sebagai manifestasi dari perintah Allah untuk birrul walidain. Adapun dengan kakak, hubungan kami sangat erat. Perangai kami pun banyak yang serupa. Aku mencintai mereka dan ingin bersama mereka tidak hanya di dunia, tapi juga hingga di surga. 
 Nah, sebelum berbicara lebih lanjut perihal mimpi, terlebih dahulu aku ingin menyampaikan visi, yakni: menjadi bermanfaat dan menginspirasi!
Sebagai upaya mewujudkan motto, tentu aku berusaha untuk tidak ‘omong doang’. Aku harus beraksi dengan bukti dan prestasi. Di antara yang sudah kulakukan:

  • ·Saat SMA, aku diamanahi menjadi Ketua Keputrian sehingga beberapa kali dipercayai untuk menyampaikan materi di keputrian dan sampai sekarang aktif menjadi mentor untuk adik-adik di DKM.
  •  Berkesempatan mengajar Bahasa Inggris di bimbingan belajar, yang saat masuk ke kelas, aku tidak hanya menyampaikan materi tetapi juga membagikan ilmu berisi nilai-nilai kehidupan.
  • ·Kecintaanku pada dunia literasi membuatku semangat menulis dan beberapa kali memenangkan lomba menulis esai dan puisi.
Ada juga satu pengalaman yang berkesan. Selama dua tahun, setiap dilaksanakannya ujian baik UTS, UAS, hingga UN, aku bersama beberapa kawan kerap membagikan pita biru sambil mengkampanyekan MANTEP_GAN: Mandiri Terpercaya, Gerakan Anti Nyontek Nasional. Kami berusaha menumbuhkan atmosfer kejujuran di lingkungan sekolah. Alhamdulillah, cukup banyak teman yang jadi lebih percaya diri untuk jujur saat ujian.
Kembali ke persoalan mimpi dan kontribusi. Alasanku terpikirkan menjadi menteri pendidikan salah satunya ingin merumuskan sistem pendidikan yang semoga lebih baik; dimana siswa bisa lebih dini mengenali potensi dan diarahkan untuk menjadi ahli. Kemudian pembelajaran dirancang agar fokus pada proses, bukan hanya hasil, yang semoga bisa mengurangi kecurangan siswa dalam mengejar nilai dengan menghalalkan segala cara.
Akan tetapi, menteri bukanlah posisi yang bisa diraih seorang fresh graduate. Sehingga, aku merumuskan alternatif lain dalam cita-cita. Diantaranya:

  • ·   Dengan kemampuan dan kelebihanku di bidang akademis, aku berkeinginan menjadi seorang akademisi. Aku semakin termotivasi ketika menghadiri suatu perkuliahan yang diisi oleh rektor kami, beliau berhasil menyuntikkan semangat untukku mengikuti langkah beliau menjadi dosen. Dosen yang jujur, menyenangkan, yang banyak berbagi dan bisa menginspirasi mahasiswanya agar berjuang demi kemajuan Indonesia.
  • ·    Wirausahawan yang jujur, yang dapat membuka banyak lapangan kerja sehingga membantu perekonomian bangsa.
  • ·   Penulis yang jujur.  Karena dari satu tulisan dapat mempengaruhi banyak orang untuk bergerak. Maka, aku ingin bisa melawan tulisan-tulisan negatif dengan cara membuat tulisan yang mengajak pada kebaikan. Aku kerap menuangkan tulisanku di blog dan media sosial.
Semuanya harus diiringi dengan "yang jujur", sebab, selain merindukan perubahan, aku juga merindukan kejujuran. Jujur dalam artian ikhlas menjalani peran sesuai porsi dan tidak melakukan atau mengambil yang bukan bagiannya. Jujur dalam makna tidak memanipulasi atau memodifikasi sesuatu demi kepentingan pribadi. Jujur dengan memaksimalkan kontribusi diiringi dedikasi sepenuh hati.
Terdengar idealis, memang. Tetapi bukankah semangat generasi muda memang sedang menggebu-gebunya? Karena itu, alangkah baiknya apabila dorongan semangat itu diarahkan pada cita-cita positif. Bukan digunakan untuk coba-coba hal negatif atas dasar penasaran yang kemudian berujung penyesalan.
Aku percaya, di antara sekian opsi yang kusampaikan tadi, peran apapun yang akan kulakoni nanti pasti akan memberi kontribusi bagi keluarga, bangsa, dan agama. Selama hal itu diniatkan untuk kebaikan dan menebarkan kebermanfaatan dalam bingkai perdamaian.
Terakhir, pesanku untuk para pemuda: Wahai penerus bangsa, mari maksimalkan potensi, lejitkan prestasi!


– Esai Selesai –


Esai ini dibuat sebagai syarat pendaftaran “Beasiswa Bazma Petamina 2017”. Aku amat berterima kasih kepada panitia penyeleksi, sebab dengan adanya esai ini membuatku lebih terarah dalam memetakan mimpi. Dan harapan si Perindu ini ialah semoga Beasiswa Bazma Pertamina dapat menjadi salah satu jalan untukku mengejawantahkan angan.
 Fira Pujia Nuraini, 13 Oktober 2017

Kun Anta :)

Menjadi apa yg orang harapkan itu lelah sekali.
Kau tak punya waktu tuk menikmati
Indahnya jadi diri sendiri.

Adakah yang mustahil di dunia?
Ya; memenuhi ekspektasi manusia.
Karena berjuta manusia,
Berjuta ekspektasi pula.

Persoalan manusia memang rumit.
Berharap pada manusia? Pahit.
Berusaha menjadi apa yg semua orang inginkan? Sakit.

Sudahlah. Kau tak perlu mengeluh.
Dirimu tak seburuk itu.

Sudahlah.
Tak perlu ingin disanjung sesama.
Toh, dia yg kau anggap sempurna,
Pasti memiliki kekurangan juga.

Sudahlah.

Sana, bercerminlah.

Dan jangan lupa tuk ucapkan, "alhamdulillah".


-sebuah pengingat dan motivasi bagi diri sendiri. (fpn/2815)

Bacaan Ringan : ~Padi & Rumput~

Bismillah..
Apa kabar (imannya), Sahabat?
Mari berbagi hikmah.. :)

Seorang ustadz pernah berkata, "Bila kau menanam padi, maka rumput akan ikut tumbuh juga. Namun bila kau menanam rumput, tidak mungkin padi ikut tumbuh."

Maknanya adalah; bila kita mengejar kehidupan akhirat, maka kehidupan dunia akan mengikuti. Namun bila yg kita kejar adalah dunia semata, sulit bagi kehidupan akhirat untuk turut serta.

Bila kita kejar akhirat, in syaa Allah, kita akan dapat dua. Akhirat dapat. Bonusnya? Dunia.

Bila kita hanya kejar dunia. Akhirat gak jadi bonus, Sobat! Pun, urusan dunia yg kita kejar itu belum tentu barokah.

Maka, yuk, kita fastabiqul khairat!
Ketika dunia membuatmu lemah. Ingatlah bahwa tujuan utama kita adalah ridho Allah, dan kehidupan akhirat yang baik.

Hanya Allah, yang dapat menguatkan kita. :')

Semoga bermanfaat. Dan mari kita amalkan. ^_^

MAAF!

"Maaf."
Entah pada siapa kata itu kutujukan.
Masih belum mampu kumenentukan.

"Maaf."
Apalah arti sebuah maaf?
Bila salahmu pun kau tak tahu.
Pun untuk siapa maaf itu.

"Maaf."
Pernahkah kau begitu?
Dimana kau rasa terbelenggu.
Oleh resah tak menentu.

"Maaf."
Pada Siapa kau meminta maaf?

Bila ternyata yang kau dzalimi,
Adalah dirimu sendiri.



 رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

"Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi."
(Quran Surah Al Araf:23)

#selfreminder

"Dunia Telah Melalaikanku, Lagi." #selfreminder

Bismillahirrahmanirrahim..
'Dunia telah melalaikanku, lagi.'


Aku shalat.
Namun shalat itu hanya gerakan singkat,
tanpa makna.
Aku shalat.
Namun shalatku kilat,
Karena urusan lain menanti di luar sana.

Aku berdoa.
Namun doa itu hambar.
Hanya serangkaian kata yang rutin kuucap.
Aku berdoa.
Namun tak ada kedekatan yang kurasa
Dengan Sang Maha Pendengar.

Ah..
Aku buru-buru.
Tugas sekolah menunggu.
Esok ujian, aku harus membuka buku.
Lusa acara organisasiku.
Aku harus memikirkan ini dan itu.

Akhirnya, shalatku tak tepat waktu.
Amalan sunnah pun gugur satu persatu.

Semua itu buatku bertanya, adakah yang salah pada diri?
Mengapa ibadahku jadi seperti ini?

Hanya saja, satu yang kusadari;
Dunia telah melalaikanku, lagi.

Niatku telah melenceng.
Tak lagi kudapat hati yang bersih serta bening.
Yang ada, kepalaku jadi pening.
Memikirkan urusan duniawi yang nampak "penting".

Ya, tentu. Kita tak bisa mengabaikan kehidupan dunia begitu saja.
Namun itu menjadi salah,
Ketika dunia mengalihkan fokus kita.
Ketika tujuan kita,
Adalah ridho manusia..


Allah berfirman dalam Quran Surah Al Ankabut ayah 64;
"Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui."


*


Ya Allah,
Jadikanlah dunia ini di tanganku..
Dan bukan di hatiku.


Ketika-Mengapa-Bagaimana #reminder

Bismillahirrahmanirrahim..
Ketika-Mengapa-Bagaimana

Ketika layar handphone adalah yang pertama kau lihat saat membuka mata..
Ketika game menjadi pilihanmu tuk habiskan waktu..
Ketika kau merasa hidupmu hanya begitu,
Kau masih bertanya mengapa?

Ketika musik dan lagu kau jadikan sahabat telingamu..
Ketika yang kau lantunkan adalah lirik mellow nan sendu..
Ketika datanglah galau itu,
Kau masih bertanya mengapa?

Ketika rumus matematika kau hafalkan..
Ketika teori fisika fasih kau ucapkan..
Ketika semua prestasimu seakan tak bermakna,
Kau masih bertanya mengapa?

Ketika bacaan fiksi sanggup kau tamatkan..
Ketika komik dan film menjadi penghibur lara..
Ketika hati rasa sepi, resah, gelisah..
Kau masih bertanya mengapa?

Lalu..
Ketika ditanya,
Bagaimana tilawahnya?
Sudah sampai mana hafalannya?
Kau hanya tergagap.
Jawabmu, "Quran itu bahkan jarang kubuka."
Mengapa?
"Aku terlalu sibuk, kawan.
Pekerjaan rumah, tugas sekolah, organisasi dan amanah,
Bagaimana mungkin aku sempat?"

Kawan, baiknya kita sadari..
Bahwa semakin padat urusan dunia yang dijalani,
Harusnya,
semakin erat pula hubungan kita dengan Illahi.

Karena..
Ketika kalamallah adalah yang pertama kali kau lihat kala bangun pagi.
Ketika lisanmu basah oleh ayat suci.
Ketika hafalan quranmu terus bertambah tiap hari.

Barulah kau mengerti,
Al quran, memang obat hati.

*

Setelah tahu semua ini..
Bila esok kutanya kabarmu,
Kuingin segalanya membaik.
Bila lusa kutanya tentang kau dan Al Quran,
Semoga jawabannya "aku dan quran sudah menjadi sahabat baik."
Bila nanti kutanya bagaimana hafalanmu?
Kuharap hafalanmu tak lagi hanya tiga surat terakhir.

*

Karena, kawan, bisa jadi..
Semua "mengapa" itu dapat terjawab oleh satu pertanyaan,
"Bagaimana hubunganmu dengan Al Quran?"

*

"Sesungguhnya orang yang di dalam dadanya tidak terdapat sebagian ayat daripada Al-Qur’an, bagaikan rumah yang tidak berpenghuni." (HR. Tirmidzi)


Wallahua'lam..

Ikhwan-Akhwat, baper?

بسم الله الرحمن الرحيم

Bacaan yang pas banget nih buat kita semua~

JANGAN BAPER😆
.
Ukhti,
Bila ada ikhwan yang bersikap baik padamu, terjemahkan itu sebagai hal yang ilmiah. Sebab sudah naluri laki-laki bersikap baik pada perempuan.
.
Bila bukumu jatuh dan dia ambilkan, itu normal. Tidak ada yang spesial. (Jangan baper)
.
Bila kamu bertemu di jalan dan dia mengucapkan salam, bukan berarti dia tertarik, dia sedang menjalankan sunnah. Bila di antara teman-temanmu hanya kamu yang disapa, jangan baper, bisa saja kebetulan dia hanya ingat namamu. Kebetulan. (Jangan baper)
.
Bila suatu saat dia membalas chatmu memakai emot, bukan berarti dia ada rasa, bisa saja sebagai pencair suasana pertemanan. Cukup itu saja. (Jangan baper)
.
Pada dasarnya rasa kecewa itu karena diciptakan sendiri, dimunculkan sendiri karena keliru dalam menanggapi sikap lawan jenis. Sudah sifat asli perempuan mudah terbawa perasaan, oleh karena itu:
Akhi,
Bila ada perempuan yang sedang bersedih, jangan kamu datang sendiri menghibur, biarkan teman perempuannya yang mendatangi. (Jangan biarkan dia baper)
.
Tak perlu menawarkan bantuan bila kau lihat dia bisa melakukan sendiri atau sahabatnya bisa membantu (Jangan biarkan dia baper)
.
Jangan mencandainya perihal hati, bercanda tentang perasaan pada lawan jenis bukanlah hal yang lucu (Jangan biarkan dia baper)
.
Jaga selalu kehormatan dengan tidak menebar pesona. Jaga kehormatan perempuan dengan tidak bersikap terlalu manis pada mereka. Bersikaplah sewajarnya. Banyak hal yang tidak disengaja bisa menimbulkan baper. Tinggal bagaimana kita pandai-pandai mengelola perasaan kita.
.
.
.
Source : @muda_berdakwah
#MudaBerdakwah

Hayo, loh.. masih mau baper? :D

[AKU, KAMU, TAHU] sebuah prosa

Bismillaah..
[AKU, KAMU, TAHU]

Inilah fenomena
antara kamu-dan-aku.
Kala bertemu,
Terpasang wajah kaku.
Dimana keramahanmu?

Inilah fenomena.
Dimana menyapa saat ada perlunya saja.
Dan berbincang pun sekadarnya.

Inilah fenomena.
Saat kita dinilai orang dengan sebutan "sombong, tidak simpatik."
Kita berdalih,
"Masa, aku yang nyapa duluan?"

Tapi, ketika sudah ada yang bertanya,
Kita malah menjawab setengah-setengah.
Yang membuat orang berpikir, "niat jawab gak, sih?"

Hmm..

***

Ini hanya sebuah prosa.
Berlatarbelakang fenomena,
Yang dianggap biasa.
Namun sesungguhnya, tak selayaknya!

Bukankah kita sesama muslim?
Bukankah kita saudara seiman?
Bukankah kita bersatu dalam aqidah, dalam kecintaan kepada-Nya?
Bukankah kita menjadikan Rasul sebagai panutan?

Maka, mulailah.
Ubah wajah yang sering kita tekuk,
menjadi pancaran sejuk.

Mari sama-sama belajar,
Untuk tak jadi manekin bisu,
kala berpapasan dengan orang yang kita tahu.

Dan, hey.
Kita bukan mesin-penjawab-otomatis.
Bersikaplah simpatik.
Saat ada yang bertanya, jangan dijawab sepatah kata saja.

Dan dijawabnya, jangan jutek, ya!
Kita lagi ngobrol sama manusia, tahu.
Bukan tembok :) !

***

Kata Rasul,

ﻻَ ﺗَﺤْﻘِﺮَﻥَّ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤَﻌْﺮُﻭﻑِ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﻭَﻟَﻮْ ﺃَﻥْ ﺗَﻠْﻘَﻰ ﺃَﺧَﺎﻙَ ﺑِﻮَﺟْﻪٍ ﻃَﻠْﻖٍ
“Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun juga walau engkau bertemu saudaramu dengan wajah berseri” (HR. Muslim no. 2626).

***
Sabda Rasul pula,

“Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun walau hanya berbicara kepada saudaramu dengan wajah yang tersenyum kepadanya. Amalan tersebut adalah bagian dari kebajikan.” (HR. Abu Daud no. 4084 dan Tirmidzi no. 2722. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Al Hafizh Ibnu Hajar menyatakan bahwa hadits ini shahih)

***

N.b. tulisan ini tidak berlaku untuk dipraktekkan pada lawan jenis.
N.n.b. Kalau dengan lawan jenis, itu namanya MODUS!


(Fpn/RTs1437)

Just an other phrase : "Salah, sih!"

Bismillahirrahmanirrahim.
Sekali lagi, sebuah tulisan untuk menampar diri sendiri.
.
.
.

Salah, sih!
Berharapnya sama manusia.

Salah, sih!
Ingin dapat penghargaan dari manusia.

Salah, sih!
Tujuannya ridha manusia.

Salah, sih!
Sandarannya manusia.

Jadinya? Kecewa. :(

Coba kalau, diganti 1 kata aja.

Berharapnya sama... ALLAH.
Ingin dapat penghargaan dari... ALLAH.
Tujuannya ridha... ALLAH.
Sandarannya... ALLAH.

In syaa Allah.. sakit hati itu akan pergi.~
Dan mungkin, kamu akan dapat bonus.
"Penilaian baik di mata manusia." :) (asalkan itu bukan tujuan utama)



n.b. tulisan ini lebih tertuju untuk penulis
n.n.b. semoga pembaca juga mendapat manfaat


Fira Pujia Nuraini
17-10-15

#SelfReminder : IKHLAS

Kerap kali kau mengeluh
akan beratnya beban yang kau pikul.

Namun tahukah kau di mana beban yang paling berat itu?
Di pikiranmu.

Dan sadarkah kau dari mana datangnya semua beban itu?

Dari dalam hatimu.

Yang sulit tuk ikhlas itu.



picture taken and edited by Fira Pujia Nuraini


#selfreminder
Fira Pujia Nuraini 11-5-15

Payungku

 PAYUNGKU
puisi karya Fira Pujia Nuraini
picture by allysaabdul


Duhai, lihatlah.
Langit mulai mendung.
Aku perlu payung.
Untuk berlindung.
Dari perasaan yang tak terbendung.

Untuk bernaung.
Dari keresahan tak berujung.

Hei, apakah kau punya payung?

Atau... kau bersedia jadi payungku?

Di mana diriku tetap terjaga,
Dari hujan perasaan yang belum waktunya.
Dari angin harapan yang tak semestinya.

Duhai, lihatlah.
Langit mulai mendung.
Maukah kau jadi payung,
Tempatku berlindung?

Ah, tidak.
Bila kau jadi payungku...
Aku akan basah kuyup.
Karena hujan justru turun
Dari dalam payungku.


Fira Pujia Nuraini
Bandung, September 2015.


Ukhti, surga itu luas sekali..

UKHTI, SURGA ITU LUAS SEKALI...


Ada kalanya kita tak sehati
Saat kau dan aku terasa asing
Ketika ucapanmu bak suara bising
Melihatmu, seolah 'benci'

Itu manusiawi...

Terkadang, gesekan itu perlu terjadi
Untuk menguji,
Apakah betul kita sahabat sejati,
Atau baik di mulut, namun lain di hati

Tak apa, ukhti...
Sangat wajar berselisih paham sekali-duakali
Bukankah setiap orang memiliki
Egonya sendiri?

Justru dengan adanya kau, ukhti...
Menjadi pengingat bagi diri,
Bahwa kita tak hidup sendiri!
Tak pantaslah kita menuntut tuk diikuti
Atau selalu dituruti
Apalagi mementingkan diri sendiri

Denganmu, ukhti.
Aku ingin menjadi
Insan mulia berakhlaq qurani
Beramaln surgawi

Menggapai ridho Illahi

Jangan tinggalkan aku, ukhti...
Bukankah surga itu luas sekali,
tak mungkin ditinggali seorang diri?
:-)

Bandung, 10/10/15
20:31

4 ma ukhties ^^

Just an other phrase, "Mereka Bilang Ini Futur"

"Mereka Bilang Ini Futur"

 
-photo by Fira Pujia Nuraini-

Dunia melenakanku, rupanya
Syaitan telah menggodaku, ternyata
Dan aku tertipu, sayangnya

Selangkah ku menjauh
Langkah berikutnya ku terpaku
Akankah esok ku mundur?

Gelisah tak berarah
Sepi tak bertepi
Seakan hilang tujuan

Itulah yang terjadi.
Itulah yang kurasa saat ku jauh dariMu Ya Rabbi

Kekosongan hati
Kegalauan diri
Jiwa kering, gersang
Saat kutengok iman, hampir usang

Kutahu aku harus kembali
Dan tak ada waktu tuk menunda lagi
Izinkan aku menjadi kekasihMu Yaa Illahi
Yang selalu menempatkan Engkau sebagai cinta tertinggi..



Hati yang sedang merindukanMu,
13 April 2015
22.02
Fira Pujia Nuraini

Hakikat "Cinta Dalam Diam" bagi Muslimah. :)

Bismillahirrahmanirrahim..
Hanya sebuah tulisan yang semoga bisa menjadi pengingat, serta muhasabah bagi penulis.
 

 


 
Muslimah tak membiarkan perasaannya membuncah.😱
Tak juga ia mengumbar. 🎉
Apalagi menyebarkannya.📰
Apa yang ia rasa, cukup ia simpan dalam hatinya. 💝
Allah sudah mengetahuinya,Dan itu cukup baginya. 😌


Just an other phrase, "Kapan Kegamangan Ini Akan Berakhir?"

Kapan Kegamangan Ini Akan Berakhir?

-random pic from google-

Lagi.
Aku mengharapkanmu.
Lagi.
Kau buat ku berharap.
Lagi.

Kapan kegamangan ini akan berakhir?
Mungkin nanti.
Saat kau datang bersama wali,
dan meminangku menjadi isteri.

Atau mungkin, itu takkan terjadi.
Bisa jadi,
yang kan mendatangi
adalah lelaki yang tak ku ketahui.

Kapan kegamangan ini akan berakhir?

Bisa saja ku akhiri kini.
Bila ku putuskan untuk berhenti
berharap pada yang belum pasti.
Dan mulai fokus mendekati
Sang Maha Pembolak-balik Hati.



dalam kegamangan dan harapan,
Fira Pujia Nuraini
14 April 2015.

2P+7K : FORMULA HADAPI CINTA


2P+7K : FORMULA HADAPI CINTA

Bismillahirrahmanirrahim.
            Segala puji bagi Allah SWT, Sang Maha Ilmu, yang telah mengalirkan ide dan inspirasi untuk dituangkan dalam artikel sederhana ini. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah bagi junjungan kita, Rasulullah SAW.
Cinta. Sebuah rasa yang Allah titipkan dalam kalbu setiap insan.  Sungguh, kita tak punya kuasa untuk menawar, atau menolaknya. Tanpa pernah disangka, muncul rasa yang berbeda pada si ‘dia’. Tanpa direncanakan, ‘dia’ tiba-tiba mengisi hari-hari kita. Hingga tanpa disadari, kita lebih sering memikirkan ‘dia’ dari pada Dia.
Sebagai remaja muslim muslimah, tentu kita tak ingin secuil rasa di dalam dada menjauhkan kita dari Sang Maha Kuasa. Untuk mengendalikan ‘cinta’, kita wajib berusaha. Apa saja yang bisa kita lakukan agar yang sedang kita rasakan tidak membuat lalai dari beribadah kepada-Nya? Berikut ini kiat-kiat  menghadapi ‘si merah jambu’, yang saya pun masih belajar untuk menerapkannya.
Saya formulakan dalam 2P+7K:
1.      Pandailah memilih lingkungan.
Di masa yang rawan dan labil ini, kita harus bisa memilih dengan siapa baiknya kita berteman. Kawan-kawan mungkin familiar dengan sabda Rasul berikut ini;
"Sesungguhnya perumpamaan teman yang shalih dengan teman yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Seorang penjual minyak wangi bisa memberimu minyak wangi, atau kamu membeli darinya, atau kamu bisa mendapatkan wanginya. Dan seorang pandai besi bisa membuat pakaianmu terbakar, atau kamu mendapat baunya yang tidak sedap."
[Hadits Shahih, riwayat Bukhari (no. 5534), Muslim (no. 2638), Ahmad (no. 19163)]
Dan ini,     
“Agama seseorang itu tergantung kepada agama teman dekatnya, maka hendaklah salah seorang diantara kalian melihat siapa yang dijadikan teman karibnya.”
[Hadits hasan, riwayat Tirmidzi (no. 2387), Ahmad (no. 8212), dan Abu Dawud (no. 4833)]
Maka lihatlah lingkungan di mana kita berada. Sadarilah dengan siapa kita bergaul. Tidakkah kita merasa risi saat orang di sekitar kita men”cie-cie”kan kita saat mengetahui rasa yang kita pendam? Sebagai orang yang beriman, tentu kita akan merasa malu.
Perihal memilih lingkungan, Allah SWT berfirman;
“Dan sabarkanlah dirimu beserta orang-orang yang menyeru Rabbnya di waktu pagi dan petang dengan mengharap keridhaan-Nya, dan janganlah kamu palingkan wajahmu dari mereka hanya karena kamu menghendaki perhiasan dunia, dan janganlah kamu ikuti orang-orang yang telah Kami lalaikan hatinya dari mengingat Kami, dan menuruti hawa nafsunya, dan adalah keadaannya sangat melewati batas.” (QS. Al-Kahfi: 28)

2.      Keep it Yourself!
Jagalah rasa itu. Cukup diri sendiri dan Allah yang tahu. Pendam sedalam-dalamnya. Bila seluruh dunia sadar kita menyukai seseorang, tak malukah kita? Rasulullah SAW bersabda,
“Dan rasa malu adalah satu bagian dari iman” (HR. Muttafaq ‘alaih).
Saya punya sebuah perumpamaan;
Rasa suka dalam hati itu seperti menanam bibit dalam tanah. Ketika rasa itu diumbar dan orang-orang menjadi tahu, apalagi sampai men”cie-cie”kan kita, itu seperti memberi pupuk dan menyiram bibit tersebut. Membuatnya semakin tinggi, hingga tumbuh tak terkendali.
Dan bila rasa itu tak sepatutnya tumbuh, biarlah waktu yang menggugurkannya. Hingga ia mati dengan sendirinya.

3.      Kurangi asupan berbau cinta.
Lagu galau? Film cinta? NO! Jangan termakan oleh propaganda barat yang berusaha menggerogoti iman. Bila kita berkiblat pada gaya hidup barat, lambat laun kita akan menganggap aktivitas-aktivas ‘merajut cinta’ sebagai sesuatu yang wajar. Pikiran kita pun terngiang-ngiang oleh lirik “love, love, love” atau “I miss you” dan sebagainya. Benak kita akan tersugesti dengan adegan-adegan yang menurut mereka menggambarkan ‘cinta’. Ingatlah hadits nabi berikut ini;
Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang sempit sekalipun, -pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata,Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” (HR. Muslim no. 2669).
Dari pada menghabiskan waktu mendengar lagu-lagu yang melalaikan, lebih baik mendengarkan lantunan ayat suci Al-Qur’an. Dari pada merusak diri dengan tayangan kisah berbau cinta (yang biasanya bertokohkan pasangan belum halal), lebih baik membaca kisah-kisah yang bisa diteladani. Kisah Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Fathimah Az-zahra, misalnya. J

4.      Khalwat? Hindari sebisa mungkin, yuk!
“Janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.” (Q.S Al Isra’ : 32)

Ayat di atas mengharamkan dua hal sekaligus: (a) zina; dan (b) segala perilaku yang mendekati perbuatan zina termasuk di antaranya adalah berduaan antara dua lawan jenis yang bukan mahram yang disebut dalam istilah bahasa Arab khalwat dengan yang selain mahram.

Juga berdasarkan hadits riwayat Ahmad dalam kitab Musnad hadits no. 14692

من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فلا يخلون بامرأة ليست معها ذو محرم منها فإن ثالثهما الشيطان
Artinya: Barangsiapa yang beriman pada Allah dan hari akhir maka hendaknya tidak berkhalwat dengan perempuan bukan mahram karena pihak ketiga adalah setan.

Selain itu, di masa modern ini jangan sampai kita terjebak dengan “cyber khalwat”. Ya, cyber khalwat. Memangnya menurut kawan-kawan berkomunikasi via online dengan si dia (apalagi hingga bermesra-mesraan) itu bukan khalwat? Atau bermanja ria lewat chat dengannya, itu bukan khalwat? Let’s think again. J

5.      Komunikasi dengannya bila urgen.
Cinta datang karena terbiasa. Karena banyaknya interaksi. Karena tingginya intensitas komunikasi.
Ingat kawan, Allah melarang kita untuk MENDEKATI zina. Maka janganlah mencari-cari alasan untuk berinteraksi dengan si dia. Apalagi hanya membicarakan hal yang kurang penting, sekadar basa-basi. Itu, sih, modus namanya.
Saya punya satu perumpaan lagi. Bila mengumbar perasaan itu seperti memberi pupuk dan menyiram si ‘tanaman’, berkomunikasi dengan ikhwan/akhwat yang kita sukai itu bagai menumpahkan minyak pada kobaran api. Membuatnya semakin membara. Dan kita tak tahu perlu berapa truk pemadam kebakaran untuk meredam ganasnya ‘si jago merah’. J

6.      Katakanlah perasaanmu. Pada Yang Memberi Perasaan Itu.
Suka seseorang? Ceritakan semuanya pada Allah. Allah gak akan bocorin rahasia kita, koq. Apalagi men”cie-cie”kan kita. Malah, Allah akan memberikan solusi yang tak terpikirkan oleh manusia. Yakinlah bahwa Allah tahu yang terbaik bagi hamba-Nya. Bahkan lebih tahu dari diri kita sendiri. Jangan tergoda untuk mengutarakan rasa, atau istilahnya “nembak” si dia, hanya  karena kita pikir itu tindakan yang terbaik. It’s a BIG NO! Kecuali, kamu nembaknya bareng keluarga kamu, datangi keluarganya. Hihi...
Ada sebuah ungkapan yang mungkin sangat mengena bagi para pecinta dalam diiam;
 “Kala rindu menyapa, ku selipkan namamu dalam do’a.”
Mencintai dalam diam dan dalam do’a itu indah, lho. Percayalah. J

7.      Kencangkan ibadah
“Wahai para pemuda, siapa saja diantara kalian yang telah mampu untuk menikah, maka hendaklah dia menikah. Karena dengan menikah itu lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barang siapa yang belum mampu, maka hendaklah dia berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu bisa menjadi perisai baginya” (HR. Bukhori-Muslim)
Seusia kita ini, mungkin sangat jarang yang sudah siap untuk menikah. Maka sebagai orang yang belum mampu, anjuran Rasullullah adalah berpuasa. Yuk, rajinkan lagi puasa sunnahnya. Pahala dapat, fisik pun sehat. Enak, kan?
Tak hanya puasa. Ibadah lain seperti sholat, sedekah, membaca dan menghapal Al-Qur’an pun harus kita kencangkan. Agar kita tak disibukkan dengan hal-hal yang kurang bermanfaat atau pikiran-pikiran yang menjurus maksiat.

8.      Percaya pada janji Allah
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).” (Q.S An-Nur : 26)

Tuh, kan. Allah berfiman bahwa laki-laki yang baik untuk wanita yang baik. Maka, yuk, jadi wanita/laki-laki yang baik itu. Berusaha meningkatkan kualitas diri, dengan niat untuk Sang Illahi.
Ada sebuah ungkapan;
“Muhammad-kan dirimu, agar Allah meng-Khadijah-kan jodohmu. Fathimah-kan dirimu, agar Allah meng-Ali-kan jodohmu.”

9.      Kembali pada Sang Maha Cinta
“Dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat kebesaran Allah.” (Adz Dzariyaat: 49)
Sebagai makhluk yang tak berdaya, apa yang bisa lakukan selain menggantungkan segala sesuatu kepada-Nya?
Ingatlah firman Allah yang sering kita baca,
“Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu “ (QS. Al Ikhlas: 2)
Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap” (Q.S Al Insyirah: 8)

Pantaskah kita melupakan Allah karena cinta, padahal rasa ini Dia yang menitipkannya? Yuk, dekati Sang Maha Cinta. Sikapi perasaan dengan bijak. Agar rasa ini tetap berada dalam jalan yang diridhoi-Nya. J

Penutup dari saya,
“Allah menitipkan rasa cinta dalam hati setiap insan,  termasuk hatiku. Aku tak berhak untuk merekayasa, apalagi merusaknya. Tugasku hanyalah menjaga. Menjaga hingga Allah mengambil rasa ini kembali, atau Dia berkehendak mempersatukan kami.” J
Akhir kata saya mohon maaf atas segala kekurangan. Mohon maaf karena saya manusia biasa yang tak sempurna. Kesalahan sepenuhnya berasal dari saya dan kebenaran datangnya dari Allah SWT. Wallahua’lam.

Bandung, 19 Maret 2015.
Fira Pujia Nuraini.
-Juara 3 Lomba Artikel FESTARA ITB 2015-